Kotak Masalah (Bimbingan Konseling)

Dasar pikiran

Kotak masalah ini sering pula disebut “kotak tanya”. Dasar pemikirannya adalah untuk menampung masalah-masalah atau pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi oleh siswa atau anggota yang lain dalam sekolah. Dengan jalan ini, diharapkan tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Penyelenggaraan ini mempunyai arti yang tidak kecil, baik dari segi yang preventif maupun segi korektif. Dengan sarana ini, apabila ada masalah atau persoalan maka akan dapat segera ditampung dan dipecahkan.

Pelaksanaan

Sekolah menyediakan kotak tertentu. Siswa atau pejabat yang lain dapat memasukkan hal-hal atau masalah-masalah yang menjadi persoalannya. Pada waktu-waktu tertentu (yang telah ditetapkan, misalnya seminggu sekali atau 3 hari sekali), kotak itu dibuka oleh pembimbing atau guru pembimbing untuk dipelajari. Jika dilihat dari masalahnya maka sifatnya ada dua macam, antara lain:

  • Masalah yang bersifat umum

Apabila masalah bersifat umum maka cara pemecahannya sebaiknya juga bersifat umum. Hal tersebut berarti bahwa masalah itu perlu dikemukakan secara umum kepada siswa dan dapat dilakukan dengan mengadakan bimbingan mengenai hal itu. Atau dikemukakan kepada siswa secara keseluruhan.

  • Masalah yang bersifat khusus

Apabila sifatnya khusus maka berarti hanya khusus mengenai siswa tertentu. Oleh karena itu, cara pemecahannya juga secara individual, yaitu dengan konseling.

Cara Memasukkan Masalah

Ada 2 pendapat yang sehubungan dengan perihal memasukkan masalah ke dalam kotak masalah, antara lain:

  1. Siswa memsukkan masalahnya ke dalam kotak tanpa disertai nama ataupun identitas yang lain. Hal ini didasari agar siswa lebih terbuka di dalam menyampaikan masalahnya. Cara ini mempunyai kelemahan, antara lain siapa yang mengemukakan masalah tidak dapat diketahui sehingga dapat menimbulkan kesulitan. Di samping itu, dengan tidak adanya nama atau identitas lain maka ada tendensi tidak adanya pertanggungjawaban dari anak yang mengajukan. Hal ini dikhawatirkan akan dapat mengarah kebebasan tanpa batas. Berdasarkan atas hal ini, penulis kurang dapat menerima cara ini.
  2. Siswa memsukkan masalahnya dengan menyebutkan nama dan identitas yan lain. Dengan cara ini, jelas ada pertanggungjawaban dari siswa yang mengajukan masalah. Kekurangan dari cara ini memang ada, yaitu mungkin anak menjadi kurang terbuka dalam menyampaikan masalahnya.

Penulis berpendapat cara kedua ini merupakan cara yang lebih baik karena dengan cara ini akan ada kebebasan yang bertanggung jawab. Dengan cara ini, kemungkinan untuk timbulnya efek yang kurang baik dapat dihindari.

Sumber:

Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karier). Yogyakarta: Andi Offset.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s