“Aku Ingin Terus Belajar”

Aku jadi inget iklan 3 yang terbaru, yang pemainnya para anak-anak lucu… Ada dua versi kalau enggak salah ya? Aku suka yang closing statementnya dibawakan anak cewek yang matanya sipit *infopenting*

Aku suka dengan mata anak kecil… kelihatan bening, mau matanya sipit atau belo… Sebagus atau seindah apapun mata orang dewasa, tetap tidak bisa mengalahkan keindahan mata anak kecil. Mengesankan kejujuran, kepolosan, dan rasa ingin tahu. Terlepas dari umurnya, bagian tubuh yang paling aku perhatikan dan ketika pertama kali berjumpa dengan orang adalah matanya. Dari mata kadang kita bisa mengetahui perasaan seseorang (ini berhubungan dengan insting sih). Aku mungkin terobsesi dengan “mata”. Dulu kalau lagi bosen dengerin kuliah, aku pasti gambar mata, dan hanya satu, tidak sepasang. Jadi di sudut kertas catatan kuliah, hardcopy slide, makalah, dll milikku biasanya ada gambar mata. Pernah ketahuan sama temen,”Kok cuma matanya doang mel, mukanya mana?” “Males buatnya,hehe…” “Lanjutin gambarnya dong mel..” Aku nglajutin gambar pun cuma mau menyenangkan temenku itu. Sudah jelas hasilnya ga bagus dan tidak proposional soalnya ketika gambar orang, aku mulai dari bentuk wajah, baru setelahnya komponen pengisinya. Btw, aku dah lama ga gambar lagi. Sejak skripsi, aku udah jarang pegang pena/pensil dan kertas, melainkan pisau, eh bukan laptop maksudnya…

Topiknya melenceng jauh yaa…

Terlepas dari wujud fisik si iklan itu, kadang yang harus diperhatikan adalah informasi yang ingin disampaikan. Aku enggak terlalu peduli dengan promosi yang ditawarkan, itu biasanya kan sifatnya cuma sementara. Dari dulu aku setia sama satu kartu aja, ga hobi gonta ganti kartu gegara promosi doang.

“Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah ngejalaninnya”

Gitu ya redaksionalnya?

Awalnya kukira para bocah itu mengungkapkan mimpi mereka: pengen jadi bos, eksmud, namun selanjutnya beralih ke aktivitas yang dilakukan para orang dewasa dimulai dari yang dikira menyenangkan (yang membuat para bocah itu iri) sampai kehidupan sulit para orang dewasa. Kesimpulannya ya berupa closing statement itu.

Kadang aku suka berpikir sederhana aja. Apa yang kita pilih di masa lalu menentukan kita pada hari ini dan masa depan. Semua orang punya potensi dan masa depan yang cerah, tapi tergantung pada pilihan yang ia tentukan saat ini dan di masa lalu. Dalam prosesnya, potensi (dari dalam diri) saling berinteraksi dengan faktor yang berasal dari luar individu yaitu lingkungannya. Anak yang punya potensi yang bagus misal dalam bidang seni, bisa jadi potensi tersebut tidak berkembang disebabkan oleh keadaan lingkungan yang tidak mendukung. Kecerdasan di bidang seni mungkin masih dianggap kurang penting jika kecerdasan di bidang akademik, sehingga fokus lingkungan (keluarga dan sekolah) adalah meningkatkan nilai akademik anak tersebut dan mengabaikan potensi sebenarnya. Lebih parahnya jika ditambahkan perkataan dan perbuatan yang bisa menghilangkan kepercayaan diri si anak.
Aku dalam menangani anak seringnya tidak bisa marah. Aku pikir terkadang kesalahan mereka disebabkan karena mereka belum mengerti seperti apa kehidupan ketika mereka dewasa kelak. Mereka pasti dapat beradaptasi, dalam arti mampu bertahan hidup, aku yakin, tapi apakah mereka mendapatkan kehidupan layak seperti yang mereka inginkan? Ketika anak memiliki mimpi, se-impossible apapun itu, dukunglah mimpi itu. Mereka pasti akan menemukan jalan mereka sendiri. Namun sebagai orang dewasa ataupun orangtua, tentu ada hal-hal yang mesti kita ajarkan. Nah, ada hal yang menarik di sini.

Kalau semua bisa berjalan semudah yang aku tuliskan barusan, tentu tidak akan ada masalah ya… Kadang para orangtua mengajarkan sesuatu sesuai yang mereka ketahui itu baik. Mereka mengasuh anak-anaknya dengan “cara terbaik” yang mereka ketahui.

“Sejak hari kita dlahirkan hingga berusia 18 tahun, kita menerima lebih dari 18000 pesan negatif dari orangtua kita, “dan” 90% lebih nilai kita dibangun dalam diri kita sebelum usia 7 tahun dan orangtua kita adalah yang pertama mengajarkan nilai-nilai.” Semua itu boleh saja benar,tapi tidak berarti orangtua tidak mencintai kita! Itu hanya berarti mereka mencintai kita dengan cara yang mereka ketahui. Mereka membesarkan kita dengan cara terbaik yang mereka ketahui,maka maafkan mereka… (Ibrahim Elfiky, dalam buku “Berpikir Positif”)

Nilai-nilai yang kita miliki sekarang merupakan nilai-nilai yang diajarkan orangtua (orang-orang yang berinteraksi paling sering dengan kita) sampai kita berusia 7 tahun. Nilai-nilai apa yang kita miliki sekarang, mau baik ataupun buruk, jangan menyalahkan orangtua walaupun mereka memiliki peranan penting di sini. Aku cuma berpikir bahwa bagaimana caranya agar nanti ke depannya aku dapat mengajarkan nilai-nilai yang baik kepada anak-anakku. Maka dari itu, aku ingin terus belajar, walaupun mungkin aku sudah tidak muda lagi. Aku ingin tetap baca buku, memperhatikan sekitarku dan mengambil pelajaran darinya. Aku sampai sekarang tetap merasa tidak tahu apa-apa, oleh karena itu aku belajar terus. Aku terus berusaha membiasakan kebiasaan baru yang baik, walaupun tidak mudah karena kebiasaan lama sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Untuk mendukung itu semua, aku juga butuh penguatan dari orang-orang sekitar, yang selalu memotivasi diri mereka untuk selalu berbuat yang terbaik. Pesanku bahwa dimanapun kita berada, seperti apapun keadaan kita sekarang, tetap berusaha untuk berbuat yang terbaik. Jangan merasa menjadi orang yang paling tahu sehingga berhenti belajar.

Hmmm…. seharusnya aku mengungkapkan closing statement nya bentuk positif, tapi aku udah ngantuk… hahaha

Makin lama ketikanku makin banyak yaah… *beri applause untuk diriku sendiri ^o^/ prok prok prok*

Moga ke depannya isinya makin bermutu dan tetap banyak mem”baca” yah… aamiin

Istirahat duyu… Oyasumi~

2 thoughts on ““Aku Ingin Terus Belajar”

  1. ” Aku cuma berpikir bahwa bagaimana caranya agar nanti ke depannya aku dapat mengajarkan nilai-nilai yang baik kepada anak-anakku. Maka dari itu, aku ingin terus belajar, walaupun mungkin aku sudah tidak muda lagi. Aku ingin tetap baca buku, memperhatikan sekitarku dan mengambil pelajaran darinya. Aku sampai sekarang tetap merasa tidak tahu apa-apa, oleh karena itu aku belajar terus. Aku terus berusaha membiasakan kebiasaan baru yang baik, walaupun tidak mudah karena kebiasaan lama sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Untuk mendukung itu semua, aku juga butuh penguatan dari orang-orang sekitar, yang selalu memotivasi diri mereka untuk selalu berbuat yang terbaik. Pesanku bahwa dimanapun kita berada, seperti apapun keadaan kita sekarang, tetap berusaha untuk berbuat yang terbaik. Jangan merasa menjadi orang yang paling tahu sehingga berhenti belajar.”

    Me too.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s