Naik Kereta Api Tut… tut… tuuuuut….

Aku ingin nyampah tapi bingung enaknya nyampah dimana… Di facebook dan twitter, hmm… gak enak, soalnya aku udah kebanyakan nyampah di sana… hahaha😀

Oke, aku udah nyampe di blog ku… my (little shared) world… rumah yang jarang kukunjungi karena harus buka pake laptop… waktu dan sinyalnya harus oke… siiip! Hajime!
Hari ini aku beberapa kali baca tentang kereta, baik di twitter maupun facebook… Aku jadi teringat pengalamanku naik kereta..

Aku jarang naik kereta soalnya ribet, tidak bisa turun di tengah jalan, misal tinggal bilang “kiri pak” ke masinisnya… hehe… Pertama kali naik kereta, seingatku, bareng keluarga dan bibi beserta sepupu dari stasiun satu ke stasiun lainnya tapi masih dalam lingkup Jakarta. Aku masih kecil banget waktu itu. Naik kereta saat itu, bukan pengalaman yang menyenangkan. Kami duduk desak-desakan jadi tidak bisa main di dalam kereta. Kalau kami bertingkah, bapak-ibu langsung marahin kami. Ya iya lah… kasihan orangtua kami waktu itu. Mereka harus menjaga anak-anaknya yang jumlahnya banyak dan masih kecil. Padahal kami naik kereta saat itu, hanya untuk jalan-jalan saja, supaya kami tahu bagaimana rasanya naik kereta. Setelah turun di stasiun tujuan, kami yang cemberut aja dibeliin Dunkin Donuts, makan sebentar, lalu balik lagi ke stasiun Jatinegara, awal keberangkatan kami. Berbelas-belas tahun kemudian, aku tidak pernah naik kereta lagi.
Kami sekeluarga biasa bepergian dengan menggunakan mobil sendiri (makanya aku tidak terbiasa memakai angkutan umum). Nah, pas kami sekeluarga pindah dari Prabumulih ke Indramayu, mobil kami sudah dibawa sama Paman ke Indramayu, untuk menggiring truk yang membawa barang. Akhirnya kami ke pulau Jawa memakai pesawat (ini pertama kalinya aku naek pesawat ^^). Ibuku heboh nunjukkin awan-awan di jendela, tapi aku dan adikku no response, sehingga beliau kecewa. Yah, mau gimana lagi, kami mual untuk nolah-noleh jadi kami seperti memakai kacamata kuda, pandangan lurus ke depan. Kami mendarat di Jakarta, dan dijemput Bibi di bandara. Hari itu juga, kami langsung ke Bandung naek kereta untuk kondangan, dan di sanalah mobil kami menunggu. Aku tidak begitu ingat pengalaman naik kereta saat itu, karena aku ngantuk sekali, jadi di kereta aku hanya tertidur. Oh ya, yang aku ingat, aku duduk bersama bapak, sedangkan adik bersama ibu, dimana tempat duduknya agak berjauhan. Duduk bersama bapak, aku cuma dapat air putih sedangkan logistik di tempat ibu lumayan lengkap, adikku makan terus di sana. Bapak tidak terlalu suka cemilan, tapi beliau lupa aku suka cemilan… Wes, turu wae lah😦
Naek kereta yang baru-baru ini adalah pas aku dapat panggilan dari PT PTI di Jakarta. Aku dan calon lainnya berangkat dari semarang naik pesawat dan sebelumnya diminta untuk membeli tiket kereta tujuan Gambir-Semarang, yang nantinya tiket tersebut di reimburse di kantor PT PTI. Karena tidak berniat ke Semarang lagi, aku membeli tiket Cireks (Gambir-Cirebon). Karena banyak hal, kami menunggu 4 jam di Gambir… Aku bosan, dan teman Undipku sudah pulang duluan ke Semarang, tinggal aku dan teman-teman dari Surabaya. Untungnya mereka naik kereta yang jadwal keberangkatannya setelah Cireks. Kalau tidak, hadeuuuh…. aku bakalan seperti bocah ilang di Gambir, sebab hanya aku yang naik Cireks. Sambil menunggu aku keliling Gambir sama teman Undipku (tentu dia belum berangkat), bertanya-tanya bagaimana naik keretanya, masuk lewat pintu mana, tahu darimana kalau kereta nya sudah datang, tahu darimana gerbong dimana aku duduk, dan lain-lain. Aku juga mengantarkan dia ke kereta supaya aku tahu nanti aku harus kemana. Setelah itu, aku jalan-jalan sendiri, sebab teman-teman Surabayaku kecapekan (ada yang sakit juga), jadi mereka cuma duduk-duduk saja, dan aku bakalan bosan kalau cuma duduk saja. Pas magrib, aku memutuskan untuk menjama’ sholat magribku dengan isya’ sebab aku benar-benar khawatir akan ketinggalan kereta. Setelah teman-teman Surabaya sholat, mereka mengajakku makan di Hokben, dan mereka tidak percaya bahwa aku belum pernah makan di Hokben, hahaha😀 Mereka teman-teman yang menyenangkan, dan kami share banyak hal selama makan. Ketika sudah mendekati jadwal keberangkatanku, aku pamit dan mereka minta maaf tidak bisa mengantarku.. Yah, tidak apa-apa, toh aku juga sudah tahu harus kemana. Aku tanya ke petugas berapa lama Cireks akan tiba di Gambir, katanya masih lama, jadi aku mau nge-charge BB dulu. Kemudian datanglah seorang laki-laki muda dan nge-charge hp juga, dan dia bertanya aku naik kereta apa dan gerbong berapa. Ternyata dia naik Cireks juga dan bilang bahwa gerbongku eksekutif, jadi aku bisa charge di dalam kereta sedangkan dia tidak bisa (jujur, aku baru tahu ternyata di kereta ada stop kontak..). Terus dia nitip hp nya karena dia mau sholat magrib dulu dan meninggalkanku begitu saja. Katanya ibukota lebih kejam daripada ibu tiri… Apa karena mukaku seperti malaikat (ya jelas, bukan!), masnya percaya begitu saja menitipkan hp nya kepadaku. Entahlah, tapi masnya tentu sudah lama tinggal di Jakarta, lebih tahu lah apa telah dilakukannya. Sedangkan aku? Aku masih bingung harus lewat mana sebenarnya ingin langsung ke atas, tempat kereta datang. Dan sebenarnya saat itu sudah mendekati keberangkatan kereta (sesuai di tiket). Wis, kalau ada apa-apa, aku titipin hp nya ke petugas aja lah…
Singkat cerita, masnya datang tepat waktu mengambil hp nya dan kami sama-sama ke atas. Aku ngekor saja, dan beliau menunjukkan dimana aku harus menunggu. Tidak lama kemudian, si Cireks datang dan semua penumpang beramai-ramai mencari gerbongnya. Aku bingung gimana tahu gerbong tempat aku duduk. Akhirnya setelah kereta berhenti sempurna, aku tanya ke petugas dan ternyata gerbongku ada di depan. Uwaaaah… aku yang sudah di sekitar buntut kereta, harus ke depan lagi. Setelah tanya petugas lagi aku menemukan gerbong dan tempat dudukku. Alhamdulillah, aku benar-benar capek sekaligus antusias, dan ternyata memang di dalam kereta ada stop kontaknya! Hahaha…😀 Selama perjalanan, aku cuma liat keluar jendela (walaupun tidak ada yang bisa dilihat) dan tidur sebentar karena takut kelewat stasiun cirebonnya sebab menurut informasi, pemberhentian terakhir Cireks di stasiun tegal.
Aku senang naik kereta khususnya yang eksekutif karena ada stop kontaknya… hahaha (eh, enggak ding, sekarang kan udah punya powerbank). Tapi untuk saat ini aku tetap lebih memilih naik bis eksekutif karena bisa naik-turun dimana saja dan bisa liat pemandangan di luar..

Tumben aku bisa nulis sebanyak ini, sampai jari-jariku kemeng… padahal pas ngerjain skripsi enggak pernah nulis sebanyak ini… hahaha😀
Pamit nggih, aku bobo duyu… See yaa!

2 thoughts on “Naik Kereta Api Tut… tut… tuuuuut….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s