Review Buku “The Man Who Loved Books Too Much”

Judul Buku: The Man Who Loved Books Too Much: Kisah Nyata tentang Seorang Pencuri, Detektif, dan Obsesi pada Kesusastraan

Pengarang: Allison Hoover Bartlett

Penerbit: Pustaka Alvabet

Jumlah halaman: 300 halaman

Cetakan: April 2010

Harga: –

IMG-20130401-00204

Aku mencoba mengulas buku ini berdasarkan pertama kalinya aku berhasil membaca buku itu sampai tamat. Untuk beberapa lama, aku tidak ingat bahwa punya buku ini (bukunya pasti sedih eksistensinya tidak diakui T.T). Di sela kesibukan kuliah, aku mulai membacanya. Sepertinya aku kurang cocok dengan buku barat non-fiksi. Buku ini terasa membosankan karena terlalu banyak detail nama, tempat, dan sebagainya. Untuk beberapa lama, aku berhenti membaca buku ini.

Suatu hari aku benar-benar bosan dan ingin membeli buku baru sebagai bahan bacaan, namun finansial kurang mendukung. Setelah bongkar lemari, aku menemukan buku-buku dimana aku belum tamat membacanya. Aku merasa bersalah melupakan mereka, dan berusaha sekuat tenaga untuk menamatkannya, semampuku, karena kebanyakan buku-buku tersebut tidak menarik bagiku.

Buku ini menceritakan seorang jurnalis yang berusaha mencari jejak seorang pecinta buku bernama Gilkey. Bartlett, sang jurnalis mencari berbagai informasi dari banyak orang di berbagai tempat. Dia benar-benar penasaran dengan Gilkey dan kegilaannya terhadap buku. Gilkey mengumpulkan semua buku yang ia inginkan dan membuat perpustakaan, tetapi ia mendapatkan buku-buku tersebut dengan cara yang tidak terpuji, yaitu: mencuri. Sanders, salah satu informan utama Bartlett, merupakan penjual buku dan detektif yang sangat ingin menangkap Gilkey. Gilkey dan Sanders sama-sama memiliki obsesi terhadap buku, namun dengan cara yang berbeda. Selama perjalanannya, Bartlett menemukan berbagai fakta, khususnya mengenai para maniak buku ini. Salah satu faktanya adalah mereka memiliki keinginan yang sangat besar untuk memiliki buku, namun semua buku yang dikoleksinya tersebut tidak dibaca! Jadi mereka hanya terobsesi untuk memiliki (mengoleksi), dan tidak terobsesi untuk membaca. Mereka mengagumi sampul buku, umur buku, bentuk buku, dan sebagainya. Bartlett meniti perjalanan jurnalisnya ini berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikirannya untuk memahami seorang pecinta buku (the man who loved books too much) seperti Gilkey.

Dengan membaca buku ini jelas banyak informasi baru yang dapat diketahui, khususnya mengenai buku. Ini hanya masalah selera saja, dimana aku kurang suka buku seperti ini, namun pembaca lain belum tentu. Buktinya buku ini mendapat predikat salah satu buku terbaik 2009 versi Library Journal. Jadi, mungkin buku ini bisa saja menjadi salah satu bacaan untuk mengisi waktu luang.🙂

Rekomendasi: gold stargold starwhite starwhite starwhite star

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s