Anak Cerdas dan Berakhlak Mulia

Umumnya #AnakCerdasItu dikaitkan dengan suatu skor dari tes tertentu, baik berupa tes kecerdasan maupun tes akademik di sekolah. Menurut saya, pemahaman ini menyempitkan arti kecerdasan itu sendiri.

Setiap anak unik dan akan berkembang dengan jalannya masing-masing. Walaupun baru memiliki satu anak yang masih berusia 2 tahun, saya sering mendengarkan cerita orangtua yang telah memiliki anak lebih dari satu. Bahkan dengan orangtua yang sama, perkembangan anak pertama, kedua, dan seterusnya bisa berbeda. Apalagi jika ibu-bapaknya berbeda.. hehe.. 😅

Saya berusaha menerima anak saya apa adanya. Kalaupun mau dibandingkan, saya lebih mengacu ke milestone sesuai usia anak saya.

Memang tidak bisa dipungkiri, jika melihat anak lain yang seusia anak saya sudah bisa berjalan sebelum usia 1 tahun sedangkan anak saya belum bisa berjalan pada usia 1 tahun misalnya, ada perasaan kompetisi dalam diri saya. Saya rasa perasaan semacam itu masih wajar lah.. Namun, saya kembali melihat milestone anak usia 1 tahun, dan ternyata tumbuh kembang anak saya masih normal. Hal ini meringankan perasaan saya.. 😊

Anak saya memiliki riwayat keracunan ketuban sewaktu lahir. Setahun pertama sejak kelahirannya, saya dihantui rasa takut perkembangannya akan terganggu karena keracunan ketuban tersebut.

Sewaktu masih bayi, anak saya kurang aktif jadi saya selalu stimulus mainan dan mengajaknya berbicara. Setelah agak besar, anak saya sering bengong alias kurang merespon jika ada orang yang berbicara dengannya. Celotehnya tidak banyak. Hanya diam saja memperhatikan orang yang sedang berbicara dengannya. Ikhtiar saya antara lain sering mengajaknya bicara dengan berbagai ekspresi dan membacakan flashcard (saya baca ada pengaruh yang signifikan pembacaan flashcard pada bayi). Dan tetap, responnya hanya bengong saja.

Saat usia 13 bulan, alhamdulillah anak saya bisa berjalan. Saat itu saya sudah capek membacakan flashcard untuknya (maafkan Bunda Nak… 😭 ). Saya di masa itu sedang dalam kondisi lelah dan menyerah 😢. Suatu hari, anak saya mengambil flashcard yang teronggok terlupakan di kardus mainannya. Saya hanya memperhatikannya sambil memasak. Anak saya membuka flashcard tersebut dan membacakannya!

“A-ii (Sapi), mbee (kambing), u-cii (kucing)” dst

Saya terkejut sekali.. hampir 30% dia bisa menyebutkan nama-nama yang ada di flashcard tersebut. Sendiri tanpa dipandu saya, walaupun pengucapannya belum jelas. Saya menangis dan bersyukur. Langsung saya tes anak saya, minta disebutkan “Gambar apa ini?”. Saya rekam aktivitas tersebut agar videonya bisa dilihat suami nanti sepulang kerja. Sejak saat itu, saya getol membacakan buku cerita untuknya.

Di usianya yang hampir 2 tahun, alhamdulillah anak saya sudah bisa diajak berkomunikasi dan bercerita kejadian hari ini (walaupun masih terbata-bata).

Memang banyak anak yang mampu (bahkan lebih) daripada anak saya, namun saya tidak bermaksud membandingkan anak saya dengan anak yang lainnya. Kalaupun mau dibandingkan, maka bandingkanlah keadaan anak saya kemarin dengan hari ini. Apakah ada peningkatan? Hal ini bisa lebih menyemangati kita, para orangtua bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha.

Bagi sebagian orang, #AnakCerdasItu masih dikaitkan dengan hal yang bersifat kognitif akademik. Untuk konsep kecerdasan sendiri, saya mengacu pada konsep Howard Gardner dengan dengan 8 tipe kecerdasan (multiple intelligence). Anak memiliki bakat kecerdasan dan keahliannya masing-masing. Ada anak yang cerdas di bidang bahasa, logika, visual-spasial, kinestetik, audio (musik), interpersonal, intrapersonal, atau mungkin ada yang bidang naturalis. Saya perhatikan anak saya memiliki kelebihan di bidang bahasa dan audio. Apapun kecerdasan yang dimiliki oleh anak kita, semua itu sepatutnya harus disyukuri.

Saya berusaha tidak memaksa anak saya untuk melakukan sesuatu. Semampunya dia. Ada saatnya dia belum mampu hari ini, misalnya gosok gigi, tetapi beberapa hari kemudian dia mampu, bahkan minta untuk gosok gigi. Ketika anak saya melampaui ekspektasi saya, saya merasa dia anak cerdas dan saya bangga terhadapnya.

Menyayangi dan Menerima Anak Apa Adanya. Sumber: buku “Bunda Tercinta”

Bagaimana Mengembangkan Kecerdasan Si Kecil

Bagaimanapun keadaan anak kita, ikhtiar untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan anak merupakan tanggungjawab orangtua.

Ada beberapa langkah yang saya lakukan untuk mengembangkan kecerdasan anak saya yang masih berusia 2 tahun. Langkah-langkah tersebut adalah:

  • Berdoa, bahkan lebih baik sejak sebelum menikah agar diberikan pasangan yang dapat sejalan beriringan dengan kita saat mengasuh anak. Saat hamil pun saya selalu berdoa demikian. Berdoa agar dikaruniai anak yang sholeh-sholehah, cerdas dan berakhlak baik.
  • Memberikan makanan harian yang sehat dan memenuhi gizi untuk anak saya. Ketika anak sehat maka dia akan lebih mudah menyerap informasi di sekitarnya sehingga pengembangan diri bisa lebih maksimal.

Memberikan Makanan yang Sehat kepada Anak. Sumber: dokpri

  • Memberikan stimulus berupa perlakuan (misal mengajak berbicara), mainan (misal memberikan mainan edukatif), dan aktivitas (misal memberikan anak kebebasan untuk bermain di lapangan).
Dokpri

Mainan Edukatif. Sumber: dokpri

Mengenalkan Buku Sejak Dini. Sumber: dokpri

  • Senantiasa mengajarkan agama dan tata krama sedari dini, agar anak tidak hanya cerdas secara kognitif tetapi juga memiliki sopan santun dan akhlak yang baik. Ajarkan anak untuk senantiasa ucapkan “tolong, terimakasih, dan maaf” sejak dini. Tidak mudah, namun ikhtiar itu wajib hukumnya (khususnya ditujukan bagi saya 😅).
  • Dan #DukungCerdasnya anak dengan memberikan suplemen makanan (seperti vitamin)

Memiliki anak cerdas merupakan dambaan semua orang. Namun yang lebih penting adalah anak cerdas tersebut dapat memanfaatkan kecerdasannya agar berguna untuk orang-orang sekitarnya. Cerdas akalnya sudah banyak, yang perlu kita usahakan adalah anak dengan cerdas akal dan cerdas hati… 😀

Terimakasih sudah berkenan membaca… 😘

Advertisements

Melahirkan Anak Pertama

Menunggu HPL

Saya berdoa terus menerus. Rutin periksa ke bidan (tiap bulan) dan dokter kandungan (tiap trisemester). Ikhtiarnya banyak jalan kaki (biasanya pagi hari sama suami). Ngepel jongkok sehari rata-rata dua kali.

Perasaan menunggu HPL tuh yang pasti deg-degan dan ga sabar ingin mengakhiri kelelahan hamil tua, sekaligus ingin melihat bayi yang sering saya panggil “Iyas, Iyas” ini. Seperti apa rupanya? Seperti apa tingkah lakunya? Gimana suara tangisnya?

Keluar Lendir Darah

3 hari sebelum HPL, alhamdulillah keluar bercak darah. Syok, karena konon kalau anak pertama lama, ternyata saya sebelum HPL. Yang kedua, di rumah saya sendirian. Orangtua lagi keluar dan suami belum pulang kerja. Waktu keluar bercak darah sekitar jam 5 sore hari Jumat. Saya masuk kamar. Ragu, mau WA orangtua dan suami, khawatir mereka panik dan buru-buru pulang. Saya takut mereka kenapa-kenapa di jalan. Toh saya juga tidak merasakan apa-apa. Tidak mules (kontraksi), ya seperti biasa saja.

Saya mencoba tenang dalam kesendirian. Namun, pikiran saya malah kemana-mana. Perasaan campur aduk. Awalnya excited.

“Alhamdulillah udah mau lahiran. Ga perlu induksi karena lewat HPL.” Semacam itu.

Tapi lama kelamaan malah takut dan nangiiss 😢. Saya ragu penyebab nangis waktu itu. Antara bahagia mau ketemu Iyas, takut sakitnya kontraksi dan khawatir saya ga sanggup nahan sakit kontraksi. Karena itu di penghujung hari Jumat maka saya berdoa. Benar-benar berdoa sambil menangis.

Pengecekan di Bidan

Orangtua dan suami pulang hampir berbarengan menjelang magrib.

Saya beritahu tadi bercak darah keluar. Tidak seperti dugaan saya, mereka santai saja.. 😑

“Oh yaudah, bada isya ke bidan X (deket rumah). Anak pertama biasanya lama kok. Belum terlalu mules kan?”

Oke..

Mereka sholat (saya dah ga sholat karena darah keluar terus walau ga banyak. Kata bidan, darah tersebut sudah termasuk nifas, udah pakai pembalut) dan setelahnya, kami pun makan. Saya ga nafsu makan sama sekali. Masih deg-degan. Dipaksa Ibu buat makan untuk tenaga pas kontraksi dan melahirkan. Sebab kata ibu, kalau udah bukaan besar, ga akan bisa makan karena sakit kontraksi.

Saya jadi teringat cerita adek-angkatan yang muntah-muntah saat melahirkan karena tidak makan sehingga dehidrasi. Saya pun memaksakan diri untuk makan.

Bada isya’, kami ke bidan X. Dicek bukaan, ternyata masih bukaan 1. Kami pun diminta untuk pulang dulu karena masih sangat jauh.

Di rumah saya diminta untuk istirahat yang banyak sama Ibu. Sebab ya itu, kalau udah bukaan besar ga akan bisa tidur ataupun makan.

Kami pun istirahat.

Pecah Ketuban

Secara keseluruhan, tidur saya tidak nyenyak. Memang selama hamil tua, tidur saya tidak pernah nyenyak. Bisa karena bolak balik kamar mandi untuk BAK dan memang tidak ada posisi tidur yang nyaman.

Saya lihat jam. Masih jam 3 pagi. Saya ke kamar mandi untuk BAK. Saya cek masih keluar lendir darah walau tidak banyak. Setelah selesai, saya kembali ke tempat tidur.

Saya benar-benar tidak bisa tidur. Belum kerasa mules seperti yang diceritakan orang-orang. Memang tidak nyaman, kadang mules tapi bisa ditahan. Akhirnya saya baca Al Quran untuk memperoleh ketenangan. Saya berharap setelah baca Quran, saya relax dan bisa tidur.

Tidak lama tidak ada tanda-tanda apapun juga, keluar sesuatu yang banyak sekali dari jalan lahir!

Saya kaget sekali. Dan air itu akhirnya merembes dari bagian bawah tubuh, menggenangi saya. Memang sejak saya keluar bercak darah, ibu memasang perlak besar di tempat tidur untuk persiapan ompol bayi. Seperti nya perlak tersebut yang membuat air menggenang.

Saya masih bingung, berusaha tenang dan mencoba membangunkan suami.

Akhirnya suami bangun dan saya meminta suami panggilkan ibu. Sembari menunggu saya tidak berani bergerak. Bergerak sedikit, air keluar dari jalan lahir. Persis kalau lagi menstruasi yang banyak-banyaknya. Air tersebut keluar terus, tidak bisa ditahan.

Ibu datang, dan bingung juga melihat keadaan saya. Saya diminta membersihkan diri di kamar mandi dan memakai popok orang dewasa. Sementara itu, ibu dan suami membersihkan air yang menggenang tersebut. Menurut ibu, itu bukan air ketuban karena baunya tidak anyir, bening dan tidak berbau. Dugaan ibu, itu “kembar banyu” dan tidak berbahaya. Oleh karena itu, kami sepakat, periksa ke bidan setelah sarapan.

Sekitar jam 7 pagi, kami periksa ke bidan. Bidan memeriksa cairan yang keluar dari jalan lahir, dan mengatakan bahwa ini adalah air ketuban. Beliau bilang harus segera dibawa ke rumah sakit. Saya tanya, apakah saya bisa lahiran normal, dan beliau bilang bisa tapi harus diinduksi di rumah sakit, karena saat ini saya masih bukaan 1. Saya dan ibu syok dan bingung.

Kami keluar dari ruang periksa, untuk diskusi dengan suami dan bapak. Bidan bertanya mau dibawa kemana saya, sebab mau dibuat surat rekomendasi (kayaknya untuk BPJS). Setelah diskusi, kami sepakat untuk ke RSIA di Cirebon. Kakak saya yang dari Cirebon baru datang naik motor. Beliau punya pengalaman pakai BPJS, tanya saya punya tunggakan ga BPJSnya. Saya bilang punya, sebab setelah menikah, saya tidak bayar bulanan (karena pernah kecewa dgn pelayanan BPJS). Akhirnya kakak ke ATM dulu naik motor untuk melunasi tunggakan saya.

Setelah lunas, kami ke Cirebon bersama bidan, sementara kakak naik motor. Motor dibawa untuk mempermudah akomodasi selama di Cirebon.

Selama perjalanan, lancar dan saya tidak mengalami kontraksi apapun. Kadang saya rasakan, air dari jalan lahir masih keluar.

Ditawarkan untuk SC

Setibanya di RSIA, saya langsung dibawa ke UGD. Sementara saya diperiksa, suami dan bidan mengurus administrasi.

Saat itu sepertinya UGD cukup ramai. Kemudian tidak lama datanglah dokter jaga menghampiri saya, bertanya lalu beliau bilang bahwa saya harus segera di SC.

Waktu itu saya tanya, apakah saya masih bisa lahiran normal. Kata beliau, bisa tapi resiko ditanggung sendiri. Dan diperkirakan bayi saya ini besar, di atas 3 kg (padahal USG terakhir 2,8 kg). Jadi dibutuhkan effort yang lebih kalau mau lahiran normal. Kurleb begitu.

Bismillah, saya kuatkan diri untuk lahiran normal.

Saya dibawa ke ruang bersalin. Sebelum masuk ruangan, perawat mengecek detak jantung janin. Saya diminta memencet tombol jika merasakan gerakan bayi.

Selama pengecekan, ternyata banyak flatnya alias janin jarang bergerak. Dan hasil ini kurang baik, kata dokter kandungan.

Dokter kandungan mengkonfirmasi lagi, mau diteruskan atau SC saja?

Waktu itu, saya memilih tetap lahiran normal karena memang ada peluang walau cukup beresiko. Ya menurut pendapat dokter kandungan, walaupun bukaannya masih jauh (waktu itu bukaan 1) tapi longgar. Masih ada kemungkinan buat lahiran normal.

Akhirnya pihak medis mempersiapkan untuk induksi lewat infus.

Kenapa saya bisa mengambil keputusan di saat seperti itu? Sebab saya merasa cukup baik dan tidak mengalami kontraksi apapun.. perut sedikit mengempis, mungkin banyak cairan keluar.

Mengapa saya ngotot lahiran normal? Sebab saya tahu bagaimana sakitnya perut dibedah. Dulu saat kuliah tahun pertama, saya menjalani operasi usus buntu. Pasca operasi, saya merasakan kesakitan. Bergerak salah, makan salah, bahkan untuk ketawa dan batuk pun terasa sakit sekali. Saya rawat inap selama 2 minggu dan recovery di rumah selama 2 bulan. Mungkin saya trauma.

Kemudian, saya berencana merawat Iyas, sebab beberapa bulan berikutnya orangtua saya berangkat haji. Dengan pengalaman operasi dan recovery yang lama, saya tidak bisa membayangkan kesakitan pasca operasi dan merawat bayi pula, tanpa bantuan karena orangtua pergi haji dan suami kerja.

Percobaan Induksi Pertama

Tempat tidur saya didorong menuju ruang persalinan. Saya melihat perawat menyuntikkan cairan ke pangkal selang infus.

Beberapa saat, saya tidak merasakan apa-apa, biasa saja.

1-2 jam saya baru merasakan kontraksi. Makin lama, makin rapat, makin sakit. Kemudian, perawat memasang alat bantu pernapasan.

Beberapa saudara datang, menguatkan saya. WA grup keluarga juga berbunyi terus (saya baru bisa bacanya setelah melahirkan 😅), memantau keadaan saya. Saya sangat berterimakasih atas dukungan dan bantuan mereka. Namun, saya cuma bisa meringis, sulit berbicara karena menahan sakit. Kata mereka, keadaan saya memprihatinkan.

Saat waktu yang ditentukan, bidan melakukan pengecekan bukaan. Ternyata masih 3 dan itu masih jauh. Mereka bilang toleransi dari pecah ketuban adalah 12 jam, dan saat itu udah lebih dari 12 jam.

Saya bingung sekali. Keinginan saya masih tetap lahiran normal, tapi kondisi tidak memungkinkan saat itu. Makanan dan minuman tidak ada yang masuk karena saya mual sekali. Saya juga merasa kedinginan, padahal AC ruangan sdh dimatikan dan saya sudah pakai selimut 2 lapis. Kata bidan, itu merupakan tanda dehidrasi jadi saya harus memaksakan diri untuk makan dan minum.

Walaupun begitu, saya tidak nafsu makan. Saya nangis.. karena harus menyerah pada keadaan. Saya jadi teringat doa-doa panjang selama 9 bulan agar bisa lahiran normal. Tidak ada terbesit di benak saya untuk SC, karena saya masih ingat sakitnya pasca operasi. Suami juga menangis karena melihat saya nangis. Saya kecewa dengan diri saya sendiri.

Akhirnya saya memutuskan untuk SC, karena air ketuban semakin sedikit, saya sudah kehabisan tenaga, dan khawatir bayi mengalami stress.

Akhirnya SC Juga, Tapi…

Perawat datang untuk mengetes apakah saya alergi antibiotik. Suami juga sudah menandatangani inform consent bersedia untuk SC. Saya diminta untuk berpuasa. Saya pasrah aja mengikuti prosedur.

Keputusan untuk SC datang menjelang magrib. Dan karena dokternya full jadwalnya, jadi saya rencana di SCnya mundur menjadi jam 6 pagi keesokan hari. Jadi kami harus menunggu hampir 12 jam.

Setelah memastikan akan SC, keluarga pulang kecuali orangtua dan suami. Ibu saya tidur di mushola rumah sakit sedangkan bapak tidur di mobil. Suami tidur gelar tikar di lantai samping tempat tidur saya. Walaupun masih terasa sakit, saya berusaha menahan.

Lampu dimatikan, gorden bilik saya ditutup. Suami sudah posisi berbaring, entah sudah tidur atau belum.

Sudah sepi.

Pukul 10 malam tanggal 23 Juli 2016..

Saya berusaha menahan rasa sakit sendirian.

Yang saya bingung, kenapa rasanya semakin sakit.

Saya berusaha memanggil suami, tapi tidak sanggup. Kontraksinya rapat, hampir tidak ada jeda. Yang bisa saya lakukan ketika kontraksi datang adalah memukul kasur, bantal, senderan tempat tidur, bahkan mencubit lengan sendiri. Saya berusaha untuk tidak teriak-teriak, sesuai saran adek saya (fyi, adek saya tenaga medis dan belum bisa menjenguk saya karena ada agenda lain). Kata adek, teriak hanya menghabiskan tenaga saja.

Akhirnya setelah berusaha memanggil beberapa kali, suami terbangun. Saya minta suami untuk memanggilkan tenaga medis, siapapun itu.. yang penting rasa sakit ini bisa hilang. Suami pun keluar ruangan.

Beberapa menit kemudian suami kembali, sendirian. Katanya tidak ada yang jaga. Memang saat itu hampir tengah malam. Saya memohon lagi kepada suami, untuk panggilkan tenaga medis dimanapun itu, kalau memang harus dicari di lantai yang berbeda, tidak mengapa. Panggil satpam RS pun tidak apa-apa biar satpam bisa menghubungi dokter jaga atau apalah.. saya bersikeras karena memang sakitnya tidak tertahankan. Suami pun akhirnya keluar ruangan lagi..

Tidak lama kemudian, ibu saya datang, tanya ada apa. Saya jelaskan sebisanya, beliau langsung lari keluar ruangan.

Kemudian beliau masuk ruangan diikuti 2 orang tenaga medis. Salah satu tenaga medis mengatakan akan periksa bukaan. Dan ketika tangan beliau memeriksa, beliau kaget dan mengatakan bahwa saya sudah bukaan 9! Kami semua terkejut, senang dan bersyukur. Para tenaga medis langsung segera bersiap, baik secara personil maupun peralatan. Saya diminta untuk melakukan hal yang paling sulit saat itu yaitu TIDAK MENGEJAN. Bayangkan ketika kamu sudah sangat mulas (anggap saja kamu lagi mencret) mau BAB tapi kamu dilarang mengeluarkannya. Disuruh ditahan seperti itu… huufft… padahal mungkin diminta tahan kurleb 5 menit (sambil tenaga medis persiapan untuk melahirkan), tapi rasanya lamaaa sekaliii..

Alhamdulillah Normal…

Setelah semua siap (tenaga medis -tanpa obgin-, peralatan, bukaan 10 dan posisi melahirkan oke), saya diberi instruksi singkat mengejan. Saya keder karena memang saya ga pernah ikut senam hamil, dan beberapa jam yang lalu saya sudah pasrah di SC. Salah satu tenaga medis (mungkin ketua tim bidan, entahlah) memberi aba-aba saya buat mengejan.

Mengejan pertama gagal. Saya diminta tarik nafas dalam-dalam, atau apa gitu.. (saya lupa juga)

Mengejan kedua gagal..

Dan sampai berikutnya juga kayaknya gagal. Bidan berapa kali tuh menggunting lubang jalur lahirnya. Tidak terasa sakit walaupun bunyi alatnya bikin ngilu. Saya dimarahi bidan karena ketidakmampuan saya mempertahankan nafas padahal bayi sudah semakin dekat. Diduga saya kehabisan tenaga karena puasa menghadapi SC. Akhirnya saya diminta istirahat dan ibu menyuapi kurma dan teh manis. Saya dengar mereka menyiapkan alat vakum segala.

Setelah siap saya diminta mengejan lagi. Bayi sudah keliatan sedikit lagiiii, tapi saya kehabisan nafas. Sekali lagi, bidan harap (saya juga), ini usaha yang terakhir. Saya diminta mengejan sekuat tenaga.

Bismillah… saya mengejan sekuat yang saya bisa. Saya tahan nafas (kata ibu, muka saya sampai merah karena menahan nafas) daann alhamdulillah.. bayi saya yang akhirnya diketahui memiliki BB 3,5 kg lahir keluar.. plong rasanya.. 😍

Istirahat Tapi Tidak Istirahat..

Bayi saya menangis sebentar dan segera dibersihkan di boks bayi di dekat pintu keluar. Saya hanya bisa melihat terharu dari atas tempat tidur.

“Iyas… Iyas…”saya cuma bisa berbisik lirih.. 😢

Kemudian, saatnya dijahit jalur lahir yang digunting tadi. Dan prosedur ini lebih sakiittt…😢 katanya sudah dibius, tapi entahlah, masih terasa sangat sakit.

Setelah dijahit, Iyas bayi diberikan kepada saya untuk IMD. Iyas berusaha mencari tapi kemudian tertidur. Iyas bayi lucu sekali Masyaa Allah..😍

Kemudian Iyas dibawa pergi untuk dilakukan observasi dan pemeriksaan.

Sementara saya diminta untuk istirahat. Tidak lupa, suami mengabarkan kelahiran anak kami di WA grup keluarga, walaupun belum ada yang respon karena saat itu jam 00.15 pagi.

Perasaan saya lega, plong dan akhirnya saya tidak bisa istirahat karena terlalu excited.

Setelah ini, ada drama yang lebih dramatis lagi (bagi saya). Kalau ada kesempatan dan semangat, insyaa Allah saya sharing lagi.. 😊

Comeback

Daridulu pengen cerita tentang pengalaman melahirkan anak pertama.. ditunda terus karena kesibukan ngurus anak.. hehe.. padahal anak baru satu, anaknya kalem lagi.. emang Bunda Iyas banyak alesan.. huehuehue..

Kemarin memaksakan diri untuk nulis dalam rangka Iyas berumur 1 tahun.. tapi yah dadah bye bye.. rencana tinggal kenangan.. sekarang Iyas dah jalan usia 20 bulan.. wkwkwk..

Terus, saya pinjem buku Happy Little Soul(HLS)nya adek. Ya, antusias banget pengen kelarin baca di sela2 kesibukan sebagai bunda, soalny penasaran dengan perjalanan hidup Ibuk dan Kirana yang pinter lucu menggemaskan (stalking di IGnya).

Alhamdulillah dh kelar bacanya.. beberapa ada yng diskip misal pas bagian DIY nya karena saya ga bakat dan kurang telaten bikin gituan.. huhu..

Satu hal, setelah baca buku Ibuk, saya jadi terkenang dengan pengalaman melahirkan Iyas. Pengalaman Ibuk membawa jauh saya ke 20 bulan lalu (ga jauh2 banget sih). Saya jadi tambah sayang sama Iyas karena teringat perjuangan hamil dan melahirkan. Saya jadi lebih bersabar terhadap Iyas, kecuali saat PMS..

Yang kedua, saya jadi I like myself.. hahaha..

Ibuk begitu manusiawi.

Saya membayangkan baca buku HLS dengan teori parenting yang ketat, ga boleh ini itu, dll.

Ibuk sama seperti kebanyakan Ibu-ibu lainnya.. jadi, dengan baca buku HLS memunculkan secercah pengharapan bahwa kita pun bisa (terus berusaha) menjadi ibu yang baik dan punya anak kayak Kirana. Dengan kelebihan masing-masing anak tentunya.

Btw, share pengalaman melahirkannya next post aja deh.. Iyas dh bangun dan mulai beraksi.. jd saya main sama Iyas doeloe.. hehe

Ruko atau Kios? Apa Bedanya?

Bila Anda ingin berinvestasi dalam bidang properti khususnya di segmen komersial, maka berinvestasi di rumah toko (ruko) atau toko/kios dapat menjadi suatu pilihan. Keduanya sekilas tidak berbeda, namun apabila dicermati keduanya mempunyai perbedaan jika dikaitkan dengan investasi. Dilansir dari sebuah situs finance, ruko dan kios mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

  • Ruko

Jika Anda berinvestasi (jual atau sewa ruko), kelebihannya adalah ruko banyak diminati oleh para pelaku bisnis terlebih lagi jika ruko itu terletak di kawasan ‘basah’, sebut saja kawasan bisnis, perdagangan, atau tempat lainnya

Selain itu, apabila ruko berada di kawasan ‘basah’, untuk cepat larisnya bisa cepat karena sangat prospektif, dan patut diperhatikan prospek ruko ini sangat tergantung dari lokasinya.

Ruko di wilayah strategis itu biasanya mahal, tetapi Anda bisa memilih ruko yang harganya agak sedikit murah seperti jual ruko yang berada di pinggiran kota.

Namun pertimbangkan juga apakah nantinya di wilayah tersebut memiki potensi untuk berkembang beberapa tahun yang akan datang atau tidak? Jika iya, Anda bisa membelinya namun jika tidak, Anda sebaiknya pikir-pikir lagi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sumber gambar: www.citraindahcibubur.com

Dan untuk mengetahui perkembangan tempat itu Anda bisa melihatnya dari fasilitas umum dan akses kendaraan yang akan dibangun dan juga pertumbuhan perumahan di daerah sekitarnya. Namun berinvestasi di ruko juga mempunyai kekurangan, salah satunya adalah ruko ini sangat rentan terhadap krisis ekonomi.

  • Kios/toko

Kelebihannya, permintaan untuk kios/toko ini sangat tinggi jika berada di kawasan perdagangan. Belum lagi dengan capital gain yang akan diperoleh dalam waktu jangka panjang (lebih dari lima tahun), semakin ramai dan banyak transaksi di sebuah lokasi kios/toko, maka capital gain semakin tinggi.

Kekurangannya mungkin hampir sama dengan ruko, yaitu lokasi. Memang tak dipungkiri lokasi ini memegang peranan penting. Jadi jika Anda salah mendapatkan atau mendirikan kios/toko di lokasi yang tidak strategis, bukan untung yang Anda dapatkan melainkan buntung.

toko

Sumber gambar:  www.rajarakminimarket.com

Sewa kios atau toko merupakan salah satu strategi yang bisa dilakukan, jika Anda belum mempunyai cukup modal untuk membeli sebuah kios/toko. Jika keuntungan yang diperoleh besar dan relatif cepat, maka Anda dapat merencanakan untuk membeli kios/toko sendiri.

Tips Membeli Tanah Investasi

Tanah selalu menjadi sasaran untuk memperoleh keuntungan berlipat di masa yang akan datang, mengingat investasi tanah tidak memerlukan perawatan namun memiliki keuntungan yang pasti kalau mau dijual kembali. Bagi Anda yang berencana membeli tanah dengan tujuan investasi ataupun bangun rumah, maka ada banyak pertimbangan dan kehati-hatian sebelum memutuskan membeli tanah. Berikut beberapa tips dalam membeli tanah.

a. Slow down

Perbanyak referensi dan perbandingan khusus masalah harga dan lokasi, karena banyak pilihan tanah yang di jual, carilah lokasi yang paling strategis untuk 5 tahun kedepan ada keuntungan bila dijual kembali.

b. Hindari membeli tanah yang di jual perkavling.

Jual tanah murah bisa didapatkan dengan mencari tanah yang masih asli, belum dipatok kavling.

c. Jual butuh.

Tanah dijual lebih  murah atau bisa dinego apabila pemilik menjual tanahnya karena terpaksa yang di sebabkan oleh desakan ekonomi (butuh duit).

d. Prediksi keuntungan pasti.

Perkirakan Anda pasti untuk untuk dijual pada 3 tahun mendatang dengan minimal untuk 17%, bila memenuhi maka tanah tersebut potensial di jadikan investasi.

e. Jangan sembarangan memilih posisi tanah yang dijual

Tanah yang sulit untuk naik harga jualnya adalah tanah yang lokasinya di tepi kali, di bawah sutet, atau bersebelahan dengan area mudah terbakar meledak dan terbakar seperti depo bbm atau gas.

f. Pilih lokasi strategis dan “menjual”

Yaitu lokasi tanah yang pada lalulintas seperti pinggir jalan raya, jalan protokol atau dengan dengan fasilitas umum.

g. Periksa teritorial tanah yang di jual

Pastikan area sekitar dalam kondisi aman, akses mudah, bukan tanah di tengah konflik.

h. Krocek keabsahan sertifikatnya.

Ini merupakan hal sangat penting sebelum membeli tanah agar supaya tidak tertipu, pastikan surat surat lengkap dan terdaftar di BPN yang meliputi:

  • Sertifikat tanah asli, girik atau petok B.
  • PBB yang dibayar rutin (tidak ada tunggakan).
  • Dan berkas lain yang di perlukan.

Ada hal lain yang sering terlewat namun dampak akan menyusahkan, maka perhatikanlah hal-hal berikut ini sebelum membeli tanah agar supaya tidak tertipu:

  • Perjanjian balik nama sertifikat biaya di tanggung pembeli atau penjual atau 50:50.
  • Cek nama pemilik di sertifikat, benar atas nama penjual langsung atau nama orang lain.
  • Cek apakah tanah warisan atau tanah dengan pemilih 1 orang namun belum di pecah, maka harus segera diurus pemecahan untuk di jadikan sertifikat secara terpisah.
  • Pastikan semua suratnya adalah resmi dan bisa di kroscek ke BPN

Serba Serbi Mencari Hunian di Jakarta

Usaha jual-beli property merupakan usaha yang menghasilkan rupiah yang lebih banyak jika ditekuni dengan cermat dan baik. Keuntungan bisa dihasilkan dengan mengetahui perbedaan pada setiap wilayah, khususnya di wilayah Jakarta. Hal ini tentunya membutuhkan pengetahuan yang baik mengenai nilai jual tanah terkini. Diperlukan informasi yang bisa didapatkan melalui kantor-kantor pemerintahan yang khusus mengurus hal ini misalnya Instansi Badan Pertanahan Nasional di setiap wilayah atau juga browsing melalui internet.

Rumah dijual di jakarta (ataupun rumah dijual di wilayah manapun) yang memiliki sertifikat serta IMB harganya cenderung lebih tinggi dengan tipe rumah yang sama namun tidak memiliki dokumen tersebut. Kemudian setelah membelinya, Anda harus mempunyai modal untuk mempercantik rumah tersebut.

Anda harus memiliki cukup modal untuk membeli unit property. Anda harus memastikan bahwa anda mendapatkan harga termurah dari unit property yang Anda beli. Pertimbangan mengenai lokasi juga harus Anda masukkan pada list of requirement pembelian tersebut. Karena lokasi merupakan salah satu faktor untuk dapat meningkatkan harga jual rumah Anda. Anda juga wajib meneliti dengan cermat dan seksama keaslian dan kelengkapan dokumen dari hunian tersebut.

Sewa rumah di jakarta merupakan salah satu solusi bagi Anda yang belum punya cukup modal untuk membeli unit property di Jakarta. Jika Anda berencana tidak menetap di Jakarta dalam waktu yang cukup lama, maka ini merupakan pilihan yang bisa dipertimbangkan. Anda akan mendapatkan fasilitas yang lebih banyak dengan menyewa sebuah rumah daripada harus tinggal di tempat kos. Anda juga bisa mengajak beberapa rekan (bisa rekan kerja) untuk patungan tinggal di rumah yang disewa agar beban sewa rumah bisa dibagi dengan teman Anda.